Final
"Aku harusnya tulis di blog, tapi kadang depan laptop palaku buntu nyari diksi jadi ujungnya selalu kututup lagi laptopku. Dan sebetulnya aku kemarin berniat gak cerita Intan karena kurasa Intan udah gak suka sama objek ceritaku. Hehehehe
Kutulis disini aja, mungkin kalo bagus bisa ku copy ku masukin blog.
Eh tapi Ntan, aku malah buka laptop kayanya kutulis langsung di blog aja. Jadi kalo Intan mau tau apa yang ingin kuceritain, Intan mampir di blog ku yaaa.. 💙"
Begitu pesan WAku pada Intan, sahabatku sepagi ini, iya 2 November 2020 pukul 06.33 WIB. :)
Intan gak pernah kelewat kuceritain hal-hal penting di hidupku, seringkali juga hal gak penting kuceritain ke Intan, Malah kadang berniat gak diceritain pun ujung-ujungnya tetep kuceritain, gak tau kenapa gatel aja mungkin. Cerita yang udah kelewat sebulan pun bisa aja kuceritain ke Intan, padahal udah basi banget gak sih? Tapi, tangan ini tanpa sadar mengirim semua cerita melalui pesan daring ke Intan saat Intan hanya ingin menyapa dan menanyakan kabar. Hahahahaha setidak bisa itu diam diri tanpa melibatkan orang lain.
So, apa yang ingin kuceritain ke Intan pagi ini? Well, kita mulai ceritanya. :)
Sabtu kemarin finally aku temu kangen sama sahabat-sahabatku yang kalo dirasa-rasa udah lama banget gak ketemu. Seneng, gak sabar, deg-degan juga, ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu datang. Oh ya, masih inget 'nice friend' aku? Dia juga ada, ya karena emang kita satu circle ya, akhirnya kami ketemu hari itu, hari pertama bener-bener ketemu setelah kejadian 2 Agustus kemaren. Hahahahahaha.
Aku pikir aku udah normal aja, gak ada rasa berlebihan yang mungkin bisa aja bikin aku diem sepanjang pertemuan. Tapi ternyata hatiku gak senormal itu, jadi khawatir bener-bener bakalan diem. Berawal dari tawaran dia untuk jemput karena kubilang aku ojekers (pengguna ojek setia), sampai akhirnya dia beneran jemput dan sepulangnya temu kangen, kami main bertiga lagi kaya dulu waktu dia dan teman kami yang satu lagi belum bekerja di kota lain. Yap, dia dan kita sebut saja Ari nempel mulu kemana-mana, udah kaya soulmate. Wkwkwkwk
Nggak. gak ada hal istimewa yang terjadi sepanjang hari kemaren, semuanya normal, kaya gak pernah terjadi apa-apa antara aku sama dia. Dan aku seceria biasanya, gak jadi pendiem atau semua hal yang kutakutkan mungkin terjadi. Justru itu yang bikin aku takjub sama diri aku sendiri dan sama dia juga. Untuk kalian yang baca dan termasuk Intan, mungkin ini bukan hal yang istimewa dan sangat harus disyukuri kan? Tapi beda buat aku. Hehehe. Eh, jangan salah paham aku bersyukur sungguh, aku bersyukur sama semua keadaan yang dukung kami bersikap biasa aja, terlihat normal, dan well temen-temen lain mungkin gak notice apapun. Aku berterimakasih banyak sama diri sendiri yang bisa nahan tekanan batin untuk menghindar dan sama dia yang bersikap normal apa adanya. It means a lot to me. Dan dengan bodohnya aku ikut aja dia dan Ari jalan tanpa mikirin perasaan diri sendiri yang bisa aja meledak tanpa tau waktu.
Sepanjang pertemuan itu, dari mulai aku sapa dia "Hai" dengan manisnya ketika liat dia nunggu di pinggir jalan aku berusaha untuk bersikap senormal mungkin. Seeeeeeeeeeeenormal mungkin. Dan memang itu yang aku harap, perjanjian kami untuk gak canggung terwujud sudah dan aku bahagia sekali. Semoga dia juga. Tapi ternyata ada hati yang merasa terabaikan dalam diri. Dia merasa semua harapannya kini benar-benar tak ada artinya dan tak perlu lagi diperjuangkan. Benar-benar harus berhenti. Sesampainya di rumah, hatiku bertanya dengan lantang "Why this isn't working on us?" Dan hatiku benar-benar merasa 'ditolak' untuk kesekian kali. Sikap bisa dikendalikan, tapi hati gak pernah bisa bohong kan? Hahahahaha
He was kind, as always. Itulah kenapa aku sebut dia nice friend karena ya dia emang begitu. Dan kutau dia berusaha biasa aja sama kaya yang aku usahain juga, and we worked well together. Kuharap pun kedepannya kita akan selalu seperti itu, menjadi baik satu sama lain dan saling menerima sebagai teman. Kuharap aku gak akan merasa kecewa dan kehilangan ketika akhirnya nanti dia punya pasangan, kuharap aku akan selalu jadi Hana yang semua orang harapkan. Support system for the team. Semoga aku akan selalu jadi orang seperti itu.
Dan mudah-mudahan sekarang bener-bener aku mulai belajar buka hati dan mau sungguh-sungguh mencari orang yang tepat untuk menerima keluh kesahku setiap hari, untuk menerima semua cerita penting dan gak pentingku setiap hari. Yang bisa cuma ketawa aja kalo aku ngomelin hidup, yang bisa jadi orang pertama yang aku pikirin ketika ada hal baik yang terjadi, pun ketika ada hal buruk yang terjadi. Jadi orang yang kupikirin ingin kubagi ketika aku makan enak, ketika aku dapet hadiah dari temenku yang lain. Jadi orang pertama yang ingin kusapa setiap pagi. Jadi orang terakhir yang kuhubungin setiap hari juga. Semoga, semoga aku segera menemukan sosok itu, agar hilang dan bersih semua perasaanku untuk dia. Karena dia masih jadi orang pertama yang aku pikirin untuk kubagi semua hal yang terjadi di hidupku, walaupun gak pernah kulakuin. Banyak hati yang harus kupikirin kenyamanannya, terutama hatiku sendiri. :)
Kuharap dia juga segera menemukan yang dia idamkan. Yang gak perlu bingung mau ngobrol apa karena banyak hal di dunia ini yang bisa dijadikan bahan pembicaraan. Yang gak perlu canggung nyeritain hal memalukan, yang bisa ikut ketawa ketika dia ngasih jokes receh. Yang bisa dia sempatkan waktu untuk diberi dan memberi kabar. Yang bisa dia sapa setiap hari tanpa lupa atau males ngetik pesan. Yang bisa dia inget untuk bilang "aku main game dulu" sebelum dia bener-bener lupa waktu. Yang bisa dia inget untuk bilang "kerjaan aku lagi numpuk" disela kesibukan dia ngerjain projek dari pagi sampe pagi lagi. Semoga.
Yuk kita bahagia di jalan kita masing-masing tanpa lupa kalo kita berteman dan ikut berbahagia ketika yang lain bahagia. Aku gak pernah nyesel punya perasaan lebih karena dia memang orang yang mudah disukai.
Selamat jalan perasaan lebih, terbang yang jauh bersama angin dan jangan pernah kembali lagi. :))
With love, H.
Comments
Post a Comment