Rumit

 Seseorang yang baru, datang ke hidupku. Ia baru tentu saja, baru mulai mengenal dan kukenal, baru, baru memulai. Baru.

Ada harap yang kusimpan pada diriku, bukan, bukan dirinya, tapi diriku. Harapan untuk dapat membuka hati dan membuka diri walaupun hanya seujung jari. Harapan untuk dapat mengenal dan dikenal dengan baik. Sebaik mereka yang ada di sekelilingku. Harapku cukup tinggi dan kuharap itu bukan hanya tinggal harapan.

Sehari, seminggu, sebulan, aku mencoba mengenalnya dan mencoba terbuka agar bisa dikenali, namun hati ini tak bergeming. Diam membeku seakan salju sudah lama menetap disana dan menjadikannya abadi. Sedangkan diri sudah berusaha sekuat mungkin bertahan walau hati hanya menatap tanpa bergerak. 

Entah waktu yang kurang atau entah aku yang terburu-buru, menjadikan perkenalan ini hambar, untuk diriku. Hambar seperti sayur buatan Nenek yang takut tensi darahnya naik. Aku mulai kembali pada aku yang lama. Pintu yang semula kupaksa terbuka mulai menutup dengan suara mendecit seperti suara pintu di film hantu. 

Perasaan bersalah benar-benar mulai menghantui. Aku sulit bernafas hingga seringkali terdengar helaan panjang di nafasku. Mulai dari tak ada yang menyadari hingga akhirnya sebuah tanya muncul dari seseorang yang duduk di balik laptop di sebelah mejaku, "Kenapa? Ada yang berat?", lalu beliau menoleh dan menatapku. Tak kuasa menjawab aku hanya berkata "Gakpapa," sembari tersenyum, sendu. 

Saat pada akhirnya dia, yang baru mencoba mengenalku menanyakan hal yang sama melalui sebuah pesan aku hanya bisa menatap pertanyaannya dengan perasaan yang berat. Berbagai pertanyaan malah berlomba mencoba menjawab pertanyaannya. "Apa?", "Kenapa?", "Bagaimana?". Membuatku semakin kalut dalam perasaan bersalah.

Jawaban dari semua pertanyaan itu hanya memiliki satu jawaban, "Aku tak tau."

Kuraih siapapun yang kupercaya bisa kutanyakan perihal masalah ini, perihal aku yang mungkin mereka pun sama tak mengertinya seperti aku. Dan yang kudapat secara keseluruhan adalah "Tanyakan pada dirimu apa yang kamu mau?"

Viola! Aku masih tak tau apa yang ku mau. Aku masih tak mengerti apa yang menimpaku. Aku masih tak memahami apa mauku. 

Tepat seminggu dari terakhir aku menjalin komunikasi dengannya, selama seminggu juga aku masih mengawang menentukan arah tujuan. Masih menjahati diri sendiri dan orang lain dengan sikap yang tak tentu. Masih menahan perasaan bersalah karena memaksakan diri dan membuat orang lain berharap banyak padaku. Dan masih bertahan dengan hati yang enggan bergerak. 


Comments