Hilang

Saat logika mulai mencari apa maunya hati, saat itu juga perang batin dimulai. Logika bertanya serius tentang apa maunya hati, dan si hati hanya menggeleng tak tau. Harus apa dan bagaimana? Bingung. Logika berkata A, hati tak mau, logika berkata B, hati menolak. Lalu apa maunya? Entah, logika pun seringkali mengalah karena terlalu mencintai hati.

Aku mengalami perang itu. Saat logikaku benar-benar menyalahkan hati tentang semua yang terjadi padaku sekarang. Masih membicarakan keinginanku untuk memiliki pasangan hidup tapi apa daya hati ini belum menemukan siapa yang dia mau. Atau sebenarnya sudah menentukan namun tak ada jalan ke arahnya. Entah, karena semakin lama bergaul dengan logika, hati semakin takut untuk bicara. Dan logika semakin merasa bersalah karena membuat hati menangis tersedu-sedu.

Saat ada jalan yang dibuka oleh banyak teman untuk menemukan apa yang kumau, aku selalu mundur perlahan atau malah mundur dan berlari tiba-tiba. Selalu. Kali ini juga begitu. Aku mundur sesopan mungkin, sesopan yang aku bisa. Aku mencoba jujur lebih ke diri sendiri dan enggan mencoba karena takut kecewa. Bukan, bukan karena dia yang kekurangan, tapi karena aku yang kekurangan. Aku sadar aku tidak mengerahkan banyak usaha untuk mencoba menerima orang baru masuk ke hidupku dengan dalih "aku kan selalu suka sama yang udah lama jadi temen." Dan akhirnya aku menghilangkan kesempatan, bahkan mungkin kesempatan terakhir untuk mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari si pilihan hati yang mana sang terpilih tidak memilihku. Aku terlalu berfokus pada titik dimana hatiku tau apa yang kumau, hatiku tau apa yang membuatku bahagia, hatiku tau apa yang kutunggu. Walaupun ternyata, dia pun masih bertanya apakah betul itu semua yang kubutuhkan saat ini.

Kamu tau? Banyak sekali pemikiran-pemikiran jahat yang bertamu tanpa mengetuk, antara lain,
"Gila, nyia-nyiain kesempatan."
"Udah umur berapa masih aja sok selektif."
"Mau nyari yang gimana? Ada yang baik ditolak."
"Mau sampai kapan kaya gitu terus?"
"Tinggal kamu yang masih sendiri."
dan lain-lain, dan lain-lain.

Terus aku bisa apa? Ya diem aja, gak bisa ngapa-ngapain. Malu iya, gak enak iya, merasa gagal iya, dan banyak banget selflove yang hilang, jadi debu yang dibawa angin, jatuh, lalu tersapu hujan. Karena sama pertanyaanku ke diriku pun begitu.

Kupercaya sebagian besar wanita ingin menikah. Tentu dengan orang yang benar-benar menjadi pilihan hatinya. Dan sebagian besar wanita juga sudah memimpikan akan seperti apa hari pernikahannya bahkan sebelum mereka punya pacar pertama. Atau mungkin aku saja. :)
Ya, aku yang mendambakan hari itu datang sebelum aku punya pacar pertama, sudah merancang dan membayangkan akan seperti apa pernikahanku nanti. Dikelilingi orang-orang yang memang aku ingin mereka hadir di hari bahagiaku, dan setiap tahun pula list orang-orang penting ini berubah. Tentu, karena teman datang dan pergi, berlaku juga untuk yang melabeli dirinya seorang sahabat. Oh, tapi untuk sepuluh tahun terakhir kurasa listnya masih sama. :))

Di hari bahagia itu, aku ingin menatap dan ditatap pasanganku dengan mata yang sama-sama memancarkan kebahagiaan, menunjukkan bahwa kami membutuhkan satu sama lain, bahwa kami memiliki kasih yang tak ada batasnya untuk satu sama lain, dan kami ingin semua orang yang hadir menyadari itu karena melihat cara kami saling menatap. Oh ya, masih kuinginkan bahkan sampai saat ini walaupun entah siapa yang menatap dan kutatap nanti. 

Lalu, apa yang terjadi sekarang? Aku masih sendiri dan jauh dari kata pernikahan dengan umur yang sudah enam tahun melewati batas keinginanku untuk menikah. Sedih? Tentu. Jika ada kata yang bisa menggambarkan perasaanku melebihi kata sedih, aku akan pilih kata itu. 

Aku juga ingin kaya mereka, sahabat-sahabatku. Sungguh.
Aku merasa baik-baik saja di umurku sekarang dan masih sendiri. Gak, gak gitu. 
Aku gak sirik sama temen-temenku yang sudah berkeluarga. Sirik, setengah mati. 
Aku happy aja sendirian. Sebagian ya, tapi tetep aku juga pengen punya pasangan.
Pasangan yang dengan senang hati kuceritakan apapun, yang dengan senang hati kukabari sedang dimana, sedang apa, tanpa harus diminta. Pasangan yang selalu saling merindukan sehingga bisa dengan ringan berkata, "I miss You."

Aku gak sesantai yang kalian lihat. 

Comments