Teh Manis
Hiiiiiii, how are you? Hope you great. :)
Hari ini kejadian yang sering kali kusesali terjadi lagi. Nyesel gak sih sebenernya? Gak ngerti juga, karena kadang kumendapati diri ini menikmati momen-momen itu. Tapi kemudian rasa berat dateng lagi ke hati. Aku tau sih harusnya aku udah bikin tembok dan pager setebel mungkin kaya rumahnya Killua Zoldyck di "Hunter X Hunter". Pagernya tebel banget, terus kalo berhasil buka pagernya pun kamu akan ketemu sama makhluk buas super besar yang bisa makan kamu dalam waktu 5 detik. Harusnya aku punya pertahanan seperti itu untuk hatiku, tapi sayangnya nggak. :)
If you fall in love with someone who shouldn't be it will hurt you deeply. If that someone is your bestfriend it will be deeper.
Aku sudah deklarasi kalo aku mau berhenti. Berhenti memelihara kebodohan diri sendiri, tapi lalu kebodohan enggan pergi dariku. Hahahahaha. Alhasil aku tetap dengan bodohku. Dan dia tetap dengan kesenangan pribadinya.
Banyak sharing sama orang-orang yang selalu ada di sekeliling. Kakak sendiri, atasan dan rekan kerja di kantor, sahabat sejak SD, sahabat dari perkumpulan hobi, sahabat sejak SMA, bahkan sahabatnya Mamah yang mampir hanya untuk sekadar bertanya "apa kabar?" tetapi berhasil mengorek hal-hal kecil di hati. Mereka semua yang kuceritakan sekilas ataupun penuh hingga semua emosi tumpah, mengatakan hal yang sama, "Lewat na, cuma main."
"LEWAT, Na. Cuma main."
"Lewat, Na. CUMA main."
"Lewat, Na. Cuma MAIN."
Terngiang, tapi apalah artinya terngiang kalo satu perhatian kecil yang baginya tidak berarti mengalahkan semua teriakan? Bahkan satu kata "Na" pun bisa meruntuhkan tembok yang susah payah dibangun. Apalagi kalimat, "Rindu kamu boleh gak?" rasanya semua sendi di tubuh berhenti berfungsi. Pernah ngerasain suara jantung diri sendiri terdengar jelas ke telinga? Ya begitu, seolah hanya jantung yang bekerja saat itu untuk tubuhmu.
After effect dari itu semua, aku akan mulai merutuki diri sendiri, mulai berkata hal-hal yang sungguh menyakitkan ke diri sendiri, mulai meng-idiot-kan hati, dan muncul kata-kata terakhir yang bisa membuat kelenjar air mata bekerja lebih keras, "I hate myself".
Karena kesalahan tentu ada padaku, bukan padanya. Dia tak meminta aku melalui itu semua. Justru sejak kapan tau dia sudah bilang kalo itu semua dia lakukan bukan untukku saja, tapi maafkanlah hati ini yang terlalu lemah untuk menampung semuanya.
Aku membela diri, aku bilang aku haus, jadi apa yang dia kasih bisa bikin aku gak terlalu haus. Lalu seorang sahabat bilang, "Kamu haus, kamu bisa minum air putih. Tapi karena air putih ga ada rasanya, kamu milih es teh manis. Kamu minum tuh es teh manis, eh makin kamu minum malah makin haus. Padahal kamu tau makin banyak es teh manis malah makin ga sehat buat kamu. Kamu mengabaikan air putih yang jelas-jelas lebih sehat hanya karena rasanya ga seenak es teh manis."
Tertampar? Nggak. Tersiram air putih yang kaya air terjun jatuh ke atas kepala, iya.
Mau apa aku setelah ini? Gak tau. Cuma mau baik-baik sama hati karena tadi kubilang aku benci. Kalo bukan aku yang sayang hatiku, mau siapa lagi? Terus mau coba bilang "Nggak" atau "Gak boleh" kalo dia mulai berulah ngasih teh manis. Dan mau cari air putih, biar lebih sehat. Udah itu aja.
Comments
Post a Comment