Akhir dan Permulaan
Hai, hari ini tanggal 31 Desember 2021 dan yes hari terakhir di tahun 2021. Kalo orang lain pasti nanya hal klise, "Apa saja yang sudah kamu capai di tahun ini?" Kalo aku gak akan nanya itu, aku cuma mau bilang, Selamat kamu sudah berhasil melalui tahun ini dengan baik, selamat udah berhasil bertahan, terimakasih sudah kuat dan berjuang untuk melalui satu tahun lagi. Yuk semangat menghadapi tahun berikutnya. Kamu pasti bisa, kita pasti bisa!
So, selain kena virus covid19 di bulan Juni kemaren, aku juga punya hal bahagia. Satu orang yang sering kali jadi bahasanku di blog ini punya perasaan yang sama denganku, ternyata. Jadi, aku bukan geer semata aja, memang rasa itu ada di dia, katanya. Iya, katanya dia, karena aku juga gak tau pasti isi hatinya apa, sama kaya orang-orang lain atau kamu yang lagi baca ini tentu gak tau isi hati aku persisnya apa.
Well, berjalan lancar atau nggak, ya nggak lancar-lancar amat, tapi gak macet-macet amat juga. Dari Juni sampe sekarang ada hal-hal yang ganjel juga di hatiku, soal dia tentu. Kemungkinan besar dia juga pasti punya hal-hal yang ganjel di dia yang mungkin dia tahan untuk sampein ke aku, gapapa namanya orang berproses pasti hati-hati. Walau kadang hati-hati nya ternyata gak berhasil juga.
Mari kita fokus ke cerita dari sisi aku aja, karena ya emang ini blog punya aku dan aku cuma bisa bahas apa yang ada di pikiran aku aja bukan di pikirannya dia. Aku bersyukur banget sungguh merasa punya dia di sisi aku yang menurut diri sendiri agak rapuh, padahal gak serapuh itu. Aku kuat tentu, sama seperti orang-orang lain, ya tapi memang gak sekuat yang dibayangkan aja. Ada banyak naik-turun di hubungan aku sama dia. Terutama karena kita jarang ketemu, ya LDR is sucks. Dia kerja di Jakarta, aku stay di Bandung. Beberapa kali kepikiran buat pindah kerja aja ke Jakarta, bukan supaya deket sama dia aja, tapi juga nyari kesempatan dan peluang baru buat diri sendiri. Tapi, aku sepengecut itu sih, gak berani nyari suasana baru karena berpikir sempit kalo pekerjaan itu sulit dicari. Alhasil ya LDR is sucks. Hahahaha
Tapi balik ke diri sendiri, aku percaya sama komitmen, aku percaya sama kata saling, dan aku percaya sama dia yang anaknya gak neko-neko deh. Tapi ternyata modalku gak cukup besar juga, sampai akhirnya sering kali aku kalah sama overthinking nya aku dan egonya aku yang tinggi. Udah 7 bulan jalan sebagai lebih dari sahabat, aku sama dia baru ketemu 2 kali. Aku gak tau untuk ukuran kalian ini sedikit atau banyak, tapi kalo buat aku sedikit sih, tapi aku masih merasa cukup. Gak cukup sebenernya, tapi yaudah mau gimana lagi?
Komunikasi lancar, kalo lagi lancar, macet kalo lagi macet, seringnya? lancar sih. "sih". Soalnya aku harus toleransi sama dia yang gak ketat soal komunikasi, dan dia juga bertoleransi dengan aku yang bawel nanyain kabar. Iya, aku sebawel itu, communication is a key. Buat aku. Buat dia, aku gak tau apa, karena percayalah dia jarang bahas. Mungkin kepercayaan dan pengertian ada di list paling atas daftar dia. Iya gapapa beda, aku sama dia lagi sama-sama belajar untuk ngerangkak sampai bisa lari bareng.
Ada hari-hari dimana aku khawatir berlebih sama dia, padahal harusnya ngerti aja percaya aja orang udah dewasa, pasti bisa jaga diri, dia ngekost di Jakarta juga bukan baru sebulan dua bulan, tapi udah dua tahun. Tapi ya aku emang selalu mengkhawatirkan hal-hal yang seharusnya gak perlu dikhawatirkan berlebih. Sampai akhirnya mungkin dia kesel juga. Ya menurut ideal aku harusnya sama-sama belajar aja.
Ada juga saat-saat dimana aku gemes karena pas dia pulang kesini, dia gak nyempetin waktu ketemu aku, serius gak bohong. Terus tiba-tiba dia udah balik lagi ke Jakarta. Kaya tau gak sih rasanya? Ih kok gak ketemu aku sih? Disaat orang-orang lain pengen ketemu sama 'pasangan'nya? Oh iya, kami emang beda, gak sama kaya yang lain.
Terus kegiatan kita apa aja selain tukeran kabar lewat pesan atau telepon? Ya kadang video call, kadang nonton online bareng, kadang ngobrol sampe pagi. And it was fun, really. I cherish that moments. And I miss it. Truly.
Di akhir tahun ini aku sama dia dapet cobaan. Aku gaktau kita bisa bertahan atau nggak, aku harap bisa. Aku gak tau apa yang dia butuh atau aku menolak menyadari kebutuhan dia karena mengedepankan kebutuhan aku. Dan itu pasti ngeselin banget buat dia. Aku belajar, terus-menerus, tapi aku terbatas juga karena aku harus belajar sendiri, ngeraba sendiri. Dan pasti kemungkinan untuk salah itu besar banget, dampaknya ya bisa ke hubungan kita berdua.
Dan memang berdampak.
Dia jadi dingin, karena mungkin muak sama masalah pribadinya dan muak sama aku yang egois banget minta diperhatiin. Ya tapi pastinya gimana aku gatau, karena gak bisa dibahas, belum bisa dibahas. Lalu aku juga jadi wondering Am I still at my place?
Kalo lagi sadar, aku paham kebutuhan dia apa, tapi beberapa kali aku menolak paham dan tetep jadi aku yang annoying, ganggu banget di saat dia butuh ketenangan. Sampe akhirnya mungkin ini yang bikin ada jarak di antara aku sama dia sekarang.
Jadi, akhirnya aku mau belajar lagi untuk memulai hal yang baru. Bukan baru sih, tapi hal yang selama ini aku tolak. Mungkin jarak itu memang seharusnya ada untuk saling menyadarkan apakah kami sudah cukup baik untuk satu sama lain atau belum. Jarak ini ada untuk kami belajar mengerti keberadaan kami untuk satu sama lain itu seperti apa. Jarak ini ada untuk kami saling memahami kebutuhan masing-masing. Jarak ini ada untuk kami saling belajar tentang pentingnya privasi tapi juga komunikasi.
Jadi, akhir tahun 2021 ini aku mau berhenti jadi aku yang egois. Dan awal tahun 2022 besok aku akan belajar lebih banyak untuk mengerti apa yang dia butuhkan, untuk mengerti apa yang aku butuhkan. Untuk saling mengerti kebutuhan hubungan ini apa.
Dan semoga jawaban dari semua kebingungan dan pertanyaan yang ada di kepalaku menemukan jawaban yang baik, jawaban yang bisa diterima dengan senyuman dan tidak berakhir dengan sesuatu yang gak pernah aku harapkan. Amin.
Happy New Year!!
With Love, H.
311221
Comments
Post a Comment