Perihal Kehilangan
Karena lagi sedih ditinggal pacar jadi masih melow, dan kata yang paling bikin sedih sampe cuma bisa ketawa adalah kehilangan. Ya baru sebelas hari. But surprisingly, aku sudah terlihat baik-baik aja. Kalo menurut Koh Lexy si pakar zodiak, Taurus memang level acceptance nya lumayan tinggi. Kalo menurut aku yang kadang mengamini perzodiakan, bukan level acceptance nya yang tinggi sebenernya, tapi lebih ke ya terus mau gimana kalo udah gak bisa diapa-apain? Karena aku pernah di posisi yang sangat memperjuangkan keinginanku sampai terlihat murah sejujurnya, dan betul banget kata orang kalo yang bukan milikmu mau segimana pun kamu berjuang gak akan pernah jadi milikmu. Ya tapi apa salahnya berjuang dulu kan ya? Oh betul, ini udah bukan soal zodiak. Dan kemudian aku juga udah mulai belajar untuk memilah yang mana yang masih bisa kuperjuangkan dan yang mana yang harus kurelakan. Termasuk soal dia, apa yang harus aku lakuin ketika yang diperjuangkan enggan untuk diperjuangan apalagi untuk ikut berjuang? Nothing, right? Kalo, kalo ya, ini hanya kalo tanpa ekspektasi apapun, dia ada niat dan usaha untuk berjuang lagi sama aku, i will take it. Tapi buat sekarang, merelakan adalah hal paling tepat.
Kalo bahas kehilangan, semua orang pasti pernah kehilangan, paling deket sama kita kehilangan semangat. Iya kan? Kehilangan bukan melulu tentang orang yang pergi, kehilangan punya arti lebih luas dari itu. Dan seringkali kehilangan membuat kita mempertanyakan hidup, untuk apa hidup kita ini? untuk siapa? Jawabannya, tanya pada dirimu sendiri karena semua pasti ada jawabannya walaupun kadang kita salah nebak.
Aku pernah kehilangan, sering bahkan. Yang mau kubahas sekarang kehilangan sesosok yang sangat berarti, berhubungan dengan keberadaan orang itu di hidup kita. Kehilangan terbesarku tentu di tahun 2013, saat Papah tanpa pamit pulang ke rumah Tuhan. Aku yang saat itu sedang sarapan di kamar, mendapat panggilan telepon dari beliau yang gak bicara apapun sampai kupikir telepon beliau kepencet dan lima menit kemudian kuakhiri teleponnya karena berpikir nanti pulsa Papah abis. Selang lima belas menit, adik Papah telepon, kali ini sang penelepon bicara dan membawa kabar yang seketika membuat kepalaku berputar dan merasa dunia berhenti. Sampai dengan konyolnya aku bertanya padanya, "Papah siapa?" Ya bagaimana aku bisa percaya kalo berita itu benar ketika aku mendapat telepon dari yang bersangkutan lima belas menit yang lalu? Aku diam, tak melakukan apapun selama beberapa menit sampai aku tersadar harus mengabari yang lain. Kabar paling buruk yang pernah kuterima selama hidupku. Itu kehilanganku yang masih terasa sampai sekarang. Yang sosoknya masih sering kupanggil ketika aku sedang kesulitan. Yang sosoknya masih selalu menenangkan bahkan ketika beliau tidak ada disini. Yang sosoknya selalu membayangiku dengan penyesalan dalam hidup karena tak bisa memberikan apapun selama beliau ada bersamaku.
Kali ini aku kehilangan lagi, yang kuyakini aku tidak kehilangan tapi dia yang kehilangan. Harus kutekankan dalam hati bahwa aku tidak kehilangan, tidak setitik pun kehilangan agar aku merasa lebih baik dan bisa menjalani keseharianku tanpa rasa berat di hati mendapati diri ini kehilangan lagi. Hanya dalam waktu lima hari coretan di bukuku bukan lagi tentang pikiran bahwa aku melakukan kesalahan sehingga aku ditinggalkan, tapi tentang bagaimana rasa marah dan benci itu muncul begitu saja. Sampai hari ke-10 setelah dia memutuskan untuk pamit dari hidupku aku sungguh membencinya, benci sebencinya. Sampai aku harus mengumpati dia ke orang lain yang mau menerima aku berkata kasar sampai puas. Lega? Sedikit. Setelahnya aku merasa berdosa pada diri sendiri dan merasa membuang tenaga. Kalian tau bahwa membenci butuh energi lebih besar daripada menyayangi? Sebagaimanapun sayang itu tak sampai dan tak diterima, menyayangi masih lebih menenangkan daripada membenci. Jadi, hari ini, pagi ini aku berhenti membenci dan lebih memilih menyayangi. Menyayangi diri sendiri, menyayangi kehilangan, menyayangi kesepian, menyayangi dia yang sudah lupa bagaimana cara menyayangiku. Bahkan kukirim pesan singkat padanya pagi tadi "aku kangen". Hanya mencoba jujur pada diri sendiri dan hanya ingin dia tau, untuk apa? Bukan untuk kembali tapi untuk merelakan. Merelakan kehilangan dan merayakannya.
Aku dan dia sama-sama kehilangan sosok yang pernah kami anggap bisa saling menenangkan, bisa saling mendukung, bisa saling membahagiakan, bisa saling menjadi rumah untuk satu sama lain. Kami berdua kehilangan, bukan hanya aku, bukan hanya dia. Tapi kami berdua. Dan aku harus berdamai dengan itu. Aku menerima itu. Aku belajar untuk baik-baik saja, and it will be, someday.
With love, spread love. H
23012022
Comments
Post a Comment