27 Mei 2022

Mungkin teguran dariNya sudah sampai batas.

Selalu kuabaikan karena perasaan bersikeras bahwa pilihannya adalah benar.

Meski pikiran sering kali marah karena perasaan tak mau mendengarkan.

Sedangkan semua keputusan diambil berdasarkan kemauan perasaan, si pikiran hanya dijadikan pertimbangan.

Selalu, selalu seperti itu ujungnya. Menyenangkan pikiran pada awalnya karena perasaan turut merutuki, mengAminkan isi pikiran, tapi pada akhirnya si perasaan meluluh dan kembali ke titik awal, memaklumi yang dilakukan orang itu kepadaku.


Kemudian yang terjadi adalah aku menangisi keputusanku. 

Menangisi apa yang kulakukan pada diriku sendiri.

Perasaan yang tidak sebanding dengan pikiran pada akhirnya menjatuhkanku lagi ke jurang tanpa dasar.

Disaat aku sudah mulai berani merangkak dan memanjat agar tak terjatuh lagi semakin dalam.

Berakhir kini perasaanku penuh luka karena mencari pegangan dan terbentur kesana kesini.


Aku belajar untuk sadar, bahwa perasaan dan pikirian tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.

Harus ada keseimbangan dalam semua keputusan. 

Tidak memaksakan salah satu dan mengabaikan yang lainnya.


Cukuplah ketulusan dalam rapalan doa yang kuberikan padanya.

Tanpa pamrih, tanpa harap.

Biarlah rasa sayang ini berganti benci dan marah, hingga semuanya habis dan aku kembali seperti semula.

Biarlah aku hanya berharap padaNya, karena teguran terakhir adalah tanda Dia rindu padaku.


H. 27052022

Comments