Another Start
Sooo, here I am :)))
Kepikiran buat nulis lagi, jadi kemaren memutuskan untuk pake alamat E-Mail ini karena emang yang lebih sering dipake buat pribadi yang ini. Eh lalu pas dicek, akun ini udah digunain buat blog, yang sesungguhnya aku aja lupa pernah posting itu. Alhasil kubaca dulu dua postingan terdahulu and violaaaaaaaaaaaaaa dia sudah selama itu ada di hatiku? wkwkwkwkwk
Nah, karena sebenernya bingung mau posting apa jadi mari kita ceritakan dulu kabar aku dan si 'dia' sekarang, di September 2020. :)
Well, si GR itu masih berlanjut sampai bulan Juli 2020, kenapa bisa hapal sampe bulan Juli? Karena pada tanggal 2 Agustus ini, aku memutuskan untuk bertanya mengenai beberapa hal yang sungguh sangat menggangguku. Bertanya langsung ke dia lebih tepatnya. Menerka-nerka tidak akan pernah selesai kalau tidak ada jawaban pasti, bukan?
Pertanyaannya kira-kira begini:
- Apakah yang dia lakukan padaku hanya dilakukan padaku saja?
- Apakah dia terlalu nyaman hingga akhirnya kata-kata yang dia pilih ketika berbicara denganku tak tersaring lalu jadi tidak peduli bahwa aku punya perasaan sebagai wanita bukan hanya perasaan sebagai sahabatnya saja?
- Apakah ada rasa lain di hatinya untukku selain perasaannya untuk seorang sahabat?
Sebenernya cuma sedikit tapi serius bikin hati gak sanggup buat nahan. Percaya atau nggak, aku sampai kehilangan nafsu makan, hati berdebar lebih kencang dari biasanya, sampai tidurpun tak pernah nyenyak. Hahahahahaha kebetulan udah lama banget gak ngerasain hal-hal itu. Lama, terlampau lama. Jadi, sebenernya sangat kunikmati walaupun tahu akan ada badai yang datang kemudian.
So, singkat cerita karena dia bukan 'text person', jadi aku voice call yang padahal kalian harus tau aku kalo ngomong suka terbata-bata dan lebih suka kirim kata-kata lewat teks daripada ngomong langsung. Tapi ya karena aku yang butuh, jadi gak apa-apa aku yang ikutin sistemnya dia. Intinya aku tanya beberapa hal yang udah kususun dan aku nemu jawabannya walau aku gak ngeluarin semua pertanyaan aku. Jadi, mari kita jawab pertanyaan di atas :
- Apakah yang dia lakukan padaku hanya dilakukan padaku saja? - Tidak, dia melakukan itu ke semua rekan kerjanya di Jakarta, karena itu cara mereka bercanda dan berkomunikasi. - (Ok)
- Apakah dia terlalu nyaman hingga akhirnya kata-kata yang dia pilih ketika berbicara denganku tak tersaring lalu jadi tidak peduli bahwa aku punya perasaan sebagai wanita bukan hanya perasaan sebagai sahabatnya saja? - Ya, dia terlalu nyaman sehingga dia rasa it would be fine if he acted like that. Dia bilang maaf karena dia harusnya tau kalo aku gak boleh disama ratain dan gak semestinya dia memperlakukan aku seperti itu. - (Ok)
- Apakah ada rasa lain di hatinya untukku selain perasaannya untuk seorang sahabat? - Sejujurnya ini gak sempet aku tanyain karena keburu kepala ini ngeblank, tapi dia pada akhirnya bilang kalo dia sempet juga punya perasaan lebih dari sahabat ke aku, yang mungkin sama dengan yang lagi aku rasain saat aku telepon dia, cuma gak ada yang bisa dia lakuin karena kita bersahabat, 'it will be awkward, right Na?' he said. - (Hm ok)
Jadi, setelah bulan Desember 2019 itu aku bilang sudah tau jawabannya dan seharusnya aku menyerah saja, awal Agustus 2020 ini aku diyakinkan olehnya langsung bahwa YA, aku hanya GR semata. Wkwkwkwkwkwk
Dan hari-hari setelah tanggal 2 Agustus itu, aku merutuki diri sendiri karena sudah lancang menyakiti diri sendiri (benar) dan membuat dia tidak nyaman (mungkin). Karena kalian harus tau, sesiap apapun kita dengan sebuah jawaban, kita pasti berharap jawaban yang kita dapat adalah jawaban yang menyenangkan hati. Mengatakan "Aku akan baik-baik saja apapun pernyataan yang akan aku dengar nanti." It's a bullshit. We will never be okay with a bad answer. At least you need some times for healing and calming yourself. We need a hug from a right person. We need a shoulder to lean on. We need a room to crying out loud. Then, we will have a broken heart and a hard feeling to live our life. Setelah semuanya terlalui kita baru bisa berpikir jernih dan menerima apa yang memang seharusnya kita terima. Kita akan lebih bisa menyayangi diri sendiri lalu setelahnya menertawai diri sendiri akan apa yang sudah terjadi. Gak apa-apa, serius ketika kita sudah bisa melalui semuanya dengan baik, kita akan lebih bisa mengenali diri sendiri. :)
Dan menurutku kata-kata "jangan jatuh di lubang yang sama" itu gak berlaku untuk semua hal, kenapa? Karena ketika jatuh cinta, kita akan selalu jatuh di lubang yang sama, yang membedakan adalah kita jatuh karena siapa? Apakah orang itu melihat saat kita jatuh atau tidak? Dan apabila melihat, dia akan dengan sigap menopang kita atau malah membiarkan kita tetap jatuh dan pergi meninggalkan?
Untuk ceritaku dengan dia, sahabatku, aku jatuh karenanya dan dia tidak melihat, tapi aku berteriak dan memanggilnya, kuberitahu bahwa aku terjatuh. Beruntungnya, dia tidak membiarkan aku terjatuh terlalu dalam tapi sayangnya dia tidak berniat menopangku dan aku tetap terperosok. Hahahahahaha
Gak apa-apa, aku sudah bisa berdiri sendiri, kakiku sudah kuat untuk berjalan bahkan berlari.
I will leave it here,
Maybe I hated you as a man, but I still loving you as a nice friend. So, thank you for not being awkward with me, thank you for your understanding to texted me back when i texted you after that awkward moment. Thank you for being a normal you and act like nothing ever happened between us. Just thank you for everything you did. :)
With a crumbs of love, H.
Comments
Post a Comment