Salam Rindu, Pah.
Haiiii Papaaaahhhh.. So sorry, kali ini Hai nya untuk Papah aja.. :p
Gak kok, bercanda. Hai, yang mampir dan baca, apa kabarnya? For real, not just "I'm fine thankyou and you?" hehehehe. Aku harap kita semua dalam keadaan sehat ya, fisiknya, hatinya, pikirannya, dan jiwanya. Amin
Jadiiiii, tiba-tiba buka blog padahal ini tanggal terakhir di bulan September yang artinya kerjaanku sebagai akunting lagi numpuk-numpuknya wkwkwkwkwk senumpuk itu sampai diajak ngomong atasan kadang gak nyambung, tapi malah mampir sini buat ketak-ketik. Yaaaa, biar gak stres ya kan. Haha
Kenapa Na? Hm, tadi bahas transferan karyawan, ada pinjaman karyawan yang dicover sama Pak Bos (iya sebaik itu), dan Pak Bos minta nomor rekening karyawan tersebut, tapi karyawannya gak mau ditransfer karena rekeningnya udah lama gak digunain, takutnya uang masuknya nanti malah kepotong biaya administrasi, kan sayang ya. Eh, jadi keinget Alm. Papah yang selalu ngosongin rekeningnya kalau dulu aku minta jajan, ya jajan buat kuliah atau jajan buat kebutuhan aku remaja. Tiba-tiba melow, Oh God air mata sudah menggenang di pelupuk mataku. :')
Kalian pernah gak sih kaya aku gini? Tiba-tiba inget seseorang, kangen, terus jatuh-jatuhnya melow dan cuma bisa terisak perih. Heu. Aku sering sih apalagi kalo menyangkut ingatan tentang Papah. Gimana aku ini yang menyesal tentang semua yang sudah dan belum aku lakukan untuknya. Jauh dari kata 'cukup' pun, membuat beliau tersenyum atau setidaknya tenang menjalankan hidupnya saja gak sempat aku lakuin. Ah iya, aku dan beliau gak tinggal satu atap semenjak aku SD sepertinya, bukan kenangan yang ingin aku ingat karena masa-masa itu hidupku rasanya ada di bawah tanah, terhimpit dan sulit bernafas. Jadi, ada sedikit rasa "Why should I love him?" tanpa memikirkan apa yang sudah beliau beri kepadaku sepanjang hidupnya. Padahal, dibalik rasa marahku, yang beliau lakukan adalah mencoba jadi Papah yang baik untuk anak-anaknya.
Ada saat-saat yang membuat kita hanya bisa mengingat perlakuan-perlakuan buruk seseorang tanpa mencari ingatan tentang pengorbanan yang orang itu lakukan di hidupnya untuk mencoba membahagiakan orang-orang kesayangannya, yang didalamnya termasuk kita. Sering kali kita hanya ingat rasa sakit yang timbul dari amarah kita sendiri tanpa berpikir panjang mengapa itu terjadi. Sering kali kita hanya berfokus pada pertanyaan mengapa kita harus menjalani hidup seperti ini, kenapa kita yang dipilih untuk merasakan perih, kenapa kita yang harus menanggung semua itu. Tanpa berpikir ada banyak kebaikan yang bisa kita ambil dari semua kejadian perih itu.
Aku mengalami itu semua saat Papah pergi meninggalkan rumah kami dan memilih tinggal di tempat lain. Merasa dikhianati? Ya, jelas. Merasa tidak diinginkan? Ya, pernah. Merasa menjadi anak paling menderita di sekolah? Ya, sering. Dulu, saat rasa-rasa itu muncul yang ada di kepalaku hanyalah, Papah jahat. Satu kata cukup untuk menggambarkan segalanya. Tanpa aku tau, tanpa aku mengerti, tanpa kucoba pahami rasa sakit beliau saat memutuskan untuk pergi. Baru kemaren kubahas ya, yang meninggalkan bukan berarti tidak punya luka. Bahkan tanpa disadari bisa saja luka mereka lebih besar dan menusuk ketimbang orang yang mereka tinggalkan. Kuharap Papah sudah tidak perlu memikirkan lukanya lagi, sudah cukup kami melukainya tanpa kesadaran. Kuharap lukanya kini sudah dibalut kebahagiaan oleh Allah. Kuharap beliau sudah tenang disana tanpa memikirkan kemungkinan kami akan terluka dan beliau tidak ada disini untuk menutupi luka itu.
Jadi inget, Papah pernah bilang kalo beliau mengkhawatirkan sisi rapuhku. Sisi rapuh yang terlihat jelas oleh orang-orang yang cukup mengenalku. Beliau saat itu berpesan untuk mencoba kuat berdiri di atas kaki sendiri dan jangan mencari pegangan kepada orang lain, karena sulit mencari orang yang mau menjadi penopang tanpa imbalan. Saat itu aku sudah duduk di bangku kuliah, jadi sedikit banyak aku mengerti maksudnya apa.
Sering kali juga beliau tiba-tiba telepon atau sms nanya kabar, lebih sakti sih sering banget sms cuma nanya, "Kenapa?" padahal aku gak cerita apapun, tapi memang lagi butuh ditanya "kenapa". Sekuat itu feelingnya. :) I miss you, Pah, kangen banget ditanya "kenapa?" kangen banget ditelepon malem-malem, kangen banget denger suara ketawanya, kangen banget diingetin ini dan itu, kangen banget, kangen semuanya. Coba kalo dulu gak kusia-siain waktu Papah sering telepon dan nanya kabar hanya karena aku merasa terganggu diteleponin terus, mungkin rasa menyesalnya gak separah ini. :')
Buat yang lagi baca, aku mau kasih saran dikit, sebelum menyesal kaya aku, sayang-sayangin orang tua dan keluarga yang masih bisa ditelepon, masih bisa diketemuin, masih bisa ditatap. Jangan merasa terganggu kalo ditelepon, jangan merasa terganggu kalo ditanyain kabar, itu pasti karena mereka rindu sama kita. Jangan gengsi juga bilang sayang, jangan gengsi peluk dan kecup. Kamu masih dipegangin orang tuamu saat lagi jalan, gak usah malu diliatin orang, karena siapa tau yang ngeliatin itu sirik sama kamu, iya kaya aku. Aku selalu sirik liat Bapak yang masih genggam anaknya erat-erat kalo lagi jalan, seandainya aku bisa begitu sama Papah. At least aku masih begitu sama Mamah, dan sungguh sangat bersyukur masih ada yang bisa kupegang. Buat yang merindukan seseorang yang sudah tidak bisa dijumpai, kirim peluk dan kecup lewat doa, InsyaAllah semua yang dikirim akan selamat sampai tujuan. Yakin aja kalo rindu kita pasti berbalas.. :))
With love, H.
Comments
Post a Comment