Ditinggalkan, Meninggalkan, Luka.
Hi, how are you?
Me? Baik InsyaAllah. :)
Hmmm, sebenernya gak ada rencana posting apa-apa sih, cuma tadi kepikiran pengen nulis walaupun entah mau nulis apa hahahaha but here I am ketak-ketik gak jelas. Wkwk
So, kemarin aku baru beres baca novel, judulnya 'Kala' karya Stefani Bella dan Syahid Muhammad. Bentuk penceritaannya bagus menurutku, dari dua sudut pandang, yaitu perempuan yang selalu jadi orang yang ditinggalkan dan satu lagi laki-laki yang selalu jadi orang yang meninggalkan. It was fun when I read it. Aku suka cara si karakter menceritakan emosinya, gak banyak dialog tapi lebih banyak bahas how they feel it. Dan aku dibawa terjun ke hati mereka. Bagaimana rasanya setelah meninggalkan, bagaimana rasanya ditinggalkan. Bagaimana cara mereka menghadapi itu, bagaimana cara mereka mengobati luka yang tertinggal. Bagaimana cara mereka menghukum dirinya sendiri, bagaimana cara mereka terlepas dari hukuman yang mereka buat. Karena, satu hal yang perlu kita semua pahami yang ditinggalkan bukan satu-satunya orang yang terluka disini, tapi yang meninggalkan juga punya lukanya sendiri.
Ok, aku gak akan bahas gimana isi bukunya, kalo mau tau kamu boleh baca aja novelnya. Intinya adalah selalu ada luka saat berhadapan dengan sebuah kejadian bernama Meninggalkan dan Ditinggalkan, untuk siapapun, baik itu pelaku atau korban, well keduanya adalah korban, karena mereka punya lukanya masing-masing. Tapi, jika memang itu adalah keputusan terbaik yang bisa membuat hati tenang di kemudian hari dan meminimalisir si luka, why not? Karena pada hakikatnya kita akan selalu menemui kejadian itu, dimana ada pertemuan selalu ada perpisahan. Betul begitu bukan? Yang membedakan hanyalah bagaimana cara kita mengobati luka yang tergores karenanya.
Terus, entah bagaimana dunia ini bekerja, serasa judul episode hidupku kali ini adalah soal meninggalkan dan ditinggalkan aku menemukan hal yang sama di sebuah lagu dalam album artis kesayanganku yang terbaru, judulnya "미친 놈 (Ex)" oleh Stray Kids. Lagunya menceritakan tentang seseorang yang meninggalkan pasangannya karena rasa yang biasanya ada sudah hilang entah kemana, dan lebih parahnya dia menemui orang lain disaat hubungan itu masih terjalin. Eh tapi ternyata dia menyesal sudah menyakiti pasangannya dan sungguh sangat terluka karena kelakuannya sendiri. Dia bahkan menyebut dirinya gila karena apa yang sudah dia lakukan. Dia meminta orang yang dia tinggalkan untuk menyumpahinya sampai bencinya berganti jadi marah, lalu marahnya hilang dan dia dimaafkan untuk kemudian bisa kembali. Seterluka itu sampai dia rela untuk disumpah-serapahi. Seterluka itu ketika menyakiti orang lain. Seterluka itu sehingga dia merasa sendirian. Kamu bisa cari lagu ini di semua platform musik yang tersedia, ah iya ini lagu korea, kalo nonton di Youtube ada subtitel nya disitu, kamu akan paham arti lagunya gimana.
Satu lagi aku menemui perihal yang sama di sebuah drama korea yang lagi kutonton judulnya "Do You Like Brahms?". Salah satu pasangan di drama ini udah menjalin hubungan selama 10 tahun, tapi lalu si perempuan menyatakan kalo dia udah gak punya rasa sama laki-lakinya, si perempuan minta putus dan cara yang dia pilih sungguh menyakitkan. Aku yang disini berperan menjadi penonton aja sakit hati, apalagi masnya ya. Hehe. Sampai suatu hari si perempuan bilang sama Ayahnya kalo dia udah putus sama pacarnya, lalu kamu tau Ayahnya bilang apa? Seolah tau anaknya melukai orang lain cukup tajam beliau bilang, "Jangan menyakiti orang terlalu dalam karena seiring berjalannya waktu kamu cenderung ingat saat kamu melukai orang ketimbang saat orang menyakitimu." Scene setelah itu si perempuan menemui si lelaki yang dia tinggalkan dan meminta maaf atas apa yang dia pikir sangat menyakiti lelaki itu, lalu si lelaki bilang, "untuk apa karena keadaan pun akan sama saja," lalu si lelaki pergi dan berakhir si perempuan menangis di pinggir jalan, sendirian. Udah gak sanggup aku nyalah-nyalahin mbaknya, kepengennya kupeluk mbaknya dan ngusap-ngusap punggungnya. :')
Jadi, pembahasan ini tuh intinya apa ya, Na? Hahahahahaha
Intinya, temen-temen, kita harus belajar untuk gak merasa paling menderita ketika kita ditinggalkan, karena orang yang meninggalkan juga mungkin (masih mungkin ya kan orang beda-beda) punya lukanya sendiri dan luka itu dibuat oleh dirinya yang mana sulit untuk dimaafkan. Memaafkan orang lain lebih mudah daripada memaafkan diri sendiri, kenapa? Karena kita hidup sama diri sendiri dari lahir ke dunia sampai meninggalkan dunia jadi dia nempel terus kemana-mana, kalo orang lain bisa kita tinggalin aja kan? Gak perlu diinget, gak perlu ketemu lagi, bahkan gak perlu kenal lagi juga bisa. Kalo diri sendiri? :)
Tapi hal yang lebih baik bisa kita lakuin sih, memaafkan dan menerima apa yang terjadi ke diri kita. Mau manis, pahit, asem, asin, mencoba menerima adalah hal yang paling bisa kita lakuin walaupun Allahuakbar sulitnya luar biasa. Kita terluka? Yuk obati, butuh waktu dan tenaga memang, tapi bukan berarti gak bisa. Kita melukai? Coba maafkan diri sendiri dan lihat apa sebab kita menorehkan luka ke orang lain, coba meminta maaf kepada orang tersebut dengan sepenuh hati. Mudah-mudahan kita dimaafkan, at least kita sudah mencoba untuk meminta maaf, perihal dimaafkan atau tidak kita serahkan kepada orang yang bersangkutan dengan bantuan doa ke Yang Maha Kuasa dan Maha Membolak-balikan Hati untuk dibukakan pintu hatinya agar memaafkan kita. Jadi, bisa sama-sama tenang menjalani hidup kembali. Karena hidup gak nunggu kita move on, tapi terus berjalan dan memaksa kita memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Yuk, sama-sama belajar menerima apa yang terjadi sama diri kita dan belajar menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. :))
With love, H.
Comments
Post a Comment